Inilah suasana Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat memberikan rekomendasi atas desakan dari sejumlah ormas Islam untuk memberikan tanggapan terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Sebut saja BTP (nama disamarkan), ini akibat ucapan BTP soal surat Al-Maidah Ayat 51. Berikut Statement yang menyinggung hati banyak pihak.
"Bapak Ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai Surat Al Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak. Dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok,"....
Dari hasil rekomendasi yang dikeluarkan MUI tersebut, MUI memutuskan bahwa BPT bersalah karena telah melakukan penistaan terhadap agama Islam, Al-Quran, dan Ulama.
Pada saat penyampaian surat rekomendasi itu di depan sejumlah perwakilan ormas Islam dan para Jurnalis, sempat terjadi kericuhan karena pertanyaan seorang wartawan yang dianggap terlalu kritis dan menyinggung, sehingga kericuhan sempat terjadi dan hampir saja para ormas Islam itu, menyuruh wartawan keluar ruangan. Namun alhamdulillah salah satu ketua MUI menenangkan keadaan dan menghentikan perkara sehingga wartawan boleh melanjutkan peliputan.
Reaksi ini tidak hanya dari MUI, bahkan angkatan muda muhammadiyah juga ikut melaporkan BTP ke bareskrim POLRI karena dianggap melakukan penistaan terhadap agama. Bahkan BTP yang sempat berusaha mendatangi muhammadiyah untuk meminta maaf, ditolak oleh angkatan muda muhammadiyah tersebut dan banyak lagi reaksi-reaksi yang ditunjukkan masyarakat atas responnya terhadap kasus ini.
Menurut saya sebagai wartawan, saya meminta masyarakat untuk tidak langsung terjebak dengan isu ini. Kalau dilihat secara Komunikasi, ini merupakan salah satu contoh dari efek media yang terencana dalam waktu pendek, yang apabila beberapa waktu saja ditampilkan di media, maka isu tersebut langsung menyebar dan memicu reaksi masyarakat akan hal tersebut. Biasanya digunakan dalam bentuk propaganda, kampanye media, iklan, dan lain-lain.
Nah, menurut saya ini merupakan sebagian isu jelang pilkada DKI 2017, karena kuatnya BTP, maka banyak pihak yang ingin menjatuhkannya, bisa saja dirinya sebenarnya tidak berniat berkata seperti itu atau tidak bermksud seperti itu. Untuk itu, kita sebagai masyarakat harus kritis melihat hal ini, perhatikan dulu kata dan makna yang dikeluarkan seseorang dan berusaha memandang masalah dari berbagai konteks, baru menjudge seseorang jika hal itu benar adanya. Karena media massa saat ini sangat pandai menyamarkan kebutuhan pribadi untuk pendukungnya menjadi kebutuhan publik, sehingga masyarakat perlu semakin cerdas untuk memilah suatu pemberitaan ataupun penayangan program tertentu.
Sumber : Vhiya

Anda sedang membaca artikel berjudul